Total Pageviews

Entri Populer

Followers

My Little Story Life

Secuil cerita yang tertulis akan lebih berarti jika dibagi daripada hanya menyimpannya sendiri :)
Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Archive for 2022

Fana Merah Jambu

 


Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu…

 

Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera kembali pulang, pun aku, kamu, dan kita. Semua berubah menjadi apa adanya, tidak ada keajaiban yang selamanya. Ia hanya sementara merembet lewat secuplik kisah tak terekam manusia lain selain kita.

Hujan tiba sesuai janjinya. Menderas bersama pancake yang kita nikmati berdua. Sebentar saja, setelah itu, punggungnya membasah karenaku. Ucapku, tidak ada lagi selain meninggalkan atau ditinggalkan. Pun kamu, melebur bersama waktu tanpa ucapan selamat tinggal.

Aku berlari ke arah matahari menenggelamkan diri. Bersama serangkaian kereta kata yang hanya melaju tanpa pemberhentian. Hei, doaku mengangkasa. Semoga bahagiamu tidak pernah padam. Sudah saatnya puing ini terselesaikan, begitu juga dengan tanya, tapi tidak pernah ada.

Langkah ini memantrai diri. Bahwa fana merah jambu tetap menjadi sama meski waktu telah menjadi lama. Pun meski lagu ini mengizinkanku memilih untuk tertawa dan berdansa, tapi aku sering lelah menyibukkan diri untuk memandangi langit kala itu yang penuh warna. Terimakasih, sudah pernah jatuh untuk senyumku.

Membuka Jendela Kurikulum Merdeka

 


“Menurut bapak ibu, apa itu kurikulum merdeka?”


Sebuah pertanyaan dari bapak narasumber menjadi pembuka perbincangan pagi ini. Beberapa guru mengangkat tangan, mengekspresikan jawabannya, inti jawaban mereka adalah kurikulum merdeka itu memerdekakan siswa, bukan guru, karena guru nanti tugasnya lebih banyak menyiapkan berbagai perangkat sehingga tidak bisa dikatakan merdeka untuk guru.


Bapak narasumber itu tersenyum, memberikan sebuah gambaran hamster yang berlari kencang diputaran kandangnya. Sama seperti guru yang tidak mau berubah, guru merasa berlari padahal tidak ke mana-mana. Kurikulum merdeka menjadi satu awalan baik agar guru bisa berlari kencang mencapai berbagai macam tujuan.


“Kurikulum 2013 itu seperti kurang bermakna karena judulnya 2013 terekam di mindset kita, sedangkan kurikulum merdeka nanti yang terekam adalah kata merdeka-nya dalam mindset kita.” Bapak narasumber mengingatkan kepada guru agar guru memberikan pembelajaran yang menyenangkan di kelas sekaligus bermakna. Bukan hanya haha hihi tapi siswa tidak tau apa-apa, tapi pembelajaran kreatif “learning by doing” yang bermakna.


Pengalaman bapak narasumber yang luar biasa ini mulai diurai dari awalan kurikulum merdeka yang menjadikan bapak KH Dewantoro sebagai panutan sesungguhnya. Beliau mengatakan bahwa ketika berkunjung ke Findlandia, negara yang populer dengan pendidikan nomer satunya, menjadikan pendidikan KH. Dewantoro sebagai salah satu dasarnya. Buku-buku KH.Dewantoro ada di perpus mereka. Sedangkan orang Indo sendiri bahkan belum mengimplementasikannya.


“Pada kurikulum merdeka ada 3 penilaian, yaitu assessment diagnostic, assessment sumatif, dan assessment formatif.” Bapak narasumber melanjutkan pembahasan kurikulum merdeka.


Assessment diagnostic dilakukan oleh guru BK untuk mengidentifikasi kebiasaan dan karakter anak selama belajar. Terdapat 3 contoh tes diagnostic, yaitu tes diagnostic kecerdasan majemuk, tes identifikasi otak kanan-kiri, hingga tes identfikasi gaya belajar. Hal ini urgen dilakukan sebelum memulai pembelajaran agar guru tidak malpraktek. Jika dalam satu kelas itu diajar dengan metode yang sama tanpa adanya identifikasi awal dari kemampuan siswa, maka pastilah itu tidak akan membuahkan hasil belajar yang maksimal.


Contohnya jika anak dalam satu kelas sudah diidentifikasi dengan tes gaya belajar, maka akan ada 3 kelompok yakni kelompok audio, visual, dan kinestetik. Jadi guru harus menerangkan satu materi dengan befokus untuk memfasilitasi ketiga kelompok tersebut, misalnya menjelaskan secara lisan untuk kelompok audio, kemudian menjelaskan dengan gambar atau video untuk kelompok visual, dan “by doing” untuk kelompok kinestetik.


Assessment sumatif dan formatif dilakukan oleh guru mapel untuk mengukur pengetauan dan ketrampilan siswa. Salah satunya adalah UH, jika satu kelas tadi ada 3 kelompok siswa based on gaya belajarnya maka UH yang dilakukan juga dibagi menjadi 3 berdasarkan kelompok tersebut. Contohnya soal bentuknya narasi untuk kelompok audio, soal bentuknya banyak gambarnya untuk kelompok visual, dan soal bentuknya prosedur untuk yang kinestetik.


“Kurikulum merdeka itu anak harus banyak melakukan project.” Bapak narasumber mulai mengenalkan berbagai macam project yang telah dilakukan di sekolahnya selama setahun kemarin.


Project mapel


Ini adalah project yang dilakukan guru mapel yang saling berkolaborasi. Bapak narasumber mencontohkan tentang kolaborasi project guru biologi, fisika, dan kimia dalam pembuatan aquascape. Jadi pembuatan aquascape ini membutuhkan konsep biologi dalam perawatan biota (ikan), kemudian membutuhkan konsep fisika untuk kelistrikannya, dan membutuhkan konsep kimia terkait pHnya. Project mapel ini minimal 2 guru dan maksimal 4 guru. Pada awal pembelajaran guru-guru diminta presentasi untuk rencana projectnya dan ingin berkolaborasi dengan guru mapel apa, nanti diskusi, jika cocok maka jadi.  Pameran project dilakukan 2x setahun.


Project profil pelajar Pancasila


Ini adalah project yang tidak berkaitan dengan mapel tertentu tapi bertema sesuai yang telah dicontohkan. Bapak narasumber mencontohkan tentang tema “gaya hidup berkelanjutan” dengan 2 pilihan project bagi siswa. Salah satu pilihan projectnya adalah menanam tanaman sayur, merawatnya, dan mengonsumsinya (dimasak ketika pameran). Pameran dilakukan 3x setahun.


Sekiranya begitulah intipan jendela kurikulum merdeka dari bapak narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi. Semoga guru-guru bisa memasuki rumah kurikulum merdeka dengan nyaman dengan segala bentuk perangkat yang ada didalamnya. Selamat mengajar guru-guru merdeka!

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -