Total Pageviews

Entri Populer

Followers

My Little Story Life

Secuil cerita yang tertulis akan lebih berarti jika dibagi daripada hanya menyimpannya sendiri :)
Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Archive for 2014

Bidadari


            Bagaimana sosok seorang bidadari? 
Tentunya kebanyakan dari kita berpikir bidadari itu cantik lagi baik hatinya. 
Pokonya yang indah-indah melekat di sosok yang bersayap itu. Pemahaman terkait sosok bidadari yang seperti itu memang tidak salah tapi tidak benar seratus persen juga. Lalu, pertanyaan selanjutnya apakah bidadari itu hanya sosok fiksi semata atau memang nyata adanya? Jawabnya tentu beragam versinya.

Jogja dan Cerita 1/2 Hari



Berkeliling, bertemu orang-orang dengan cerita hebat. Menginspirasi. Membuka mata tentang arti membangun mimpi. Menyenangkan  setengah hari di kota Jogja ini. Ketagihan. Ingin kembali dan kembali untuk bertemu orang dan hal baru. Menjadi pasokan bahan bakar untuk menghidupkan pikiran dan tulisan.

Aku Merindukanmu


                Oktober yang panas. Suatu senja datang menjelang. Aku menunggu matahari melewati kaki langit yang memerah. Hilang. Hanya tersisa gelap. Cahaya segera berganti dengan neon-neon putih dan orange. Menggantung di atap rumah dan berjajar di tepi jalanan. Aku masih menunggu di tempatku, menatap barat. Mencarimu yang lama tak kujumpai. Bukan karena aku melupakanmu, hanya  waktu melarutkanku pada hari yang tak bisa menengokmu barang sekilas pandangan pun. Kini, terlambat. Aku tak menemuimu menggantung di langit. Apakah engkau pergi ke bagian bumi yang lain? Apakah di sana engkau menyapa dengan indah manusia-manusia lain yang tengah tergulung duka dan menjadi pemantik senyuman manusia-manusia lain yang tengah tenggelam dalam penat?

Setara


Pernahkah melihat rumput tetangga yang lebih hijau?
Seakan puas tak pernah diraih. Seakan iri tak mau pergi dari hati. Tapi tahukah bahwa tidak ada yang lebih menderita dan tidak ada yang lebih bahagia. Porsi setiap manusia sama, hanya bentuk kesedihan dan kesenangannya saja yang berbeda. Singkirkan perasaan bahwa diri kitalah yang paling susah daripada manusia lain.
Tag : ,

Tanpa Tanya di Jalananku


-Malam yang panjang dan berbeda. Melihat lebih jelas detik-detik yang terlewati di jalananku. Segalanya kuceritakan dalam diam di bawah atap selambu malam yang berkelip-kelip bintang. Udara malam yang aneh, terasa hambar masuk ke tenggorokan. Rasa yang baru untuk kuteguk. Tanpa tanya, aku menyukai semua yang kini ada-

            Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin berpura-pura menutup telinga meskipun rasa ingin tahu begitu menggebu. Begitu membuncah. Begitu menarik bibirku untuk mengucap sesuatu. Seluruh dayaku akan kukerahkan untuk membuatnya membisu. Terkadang lebih baik ketika aku tidak menemukan titik. Aku takut titik itu ialah akhir sehingga tidak kutemukan kalimat selanjutnya. Jadi, aku biarkan kata-kataku melaju di jalanan panjang. Jalanan yang kubuat untuk menjadi cerita, adalah melelahkan tapi juga menyenangkan.
             Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin bertahan. Bukan dengan seluruh jiwa dan raga, hanya dengan secuil harapan dan asa. Klise memang. Tapi hanya mencoba mejadi diri agar mengenal kata sabar. Agar menghargai setiap kata yang telah kutulis di jalananku. Agar tidak berhenti di persimpangan yang menghadangku. Agar tidak menangis ketika batu menyandung langkahku. Agar tidak mematikanku terlalu cepat.
            Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menunjukkan dengan ekspresiku sendiri. Seperti kopi dengan pahitnya, seperti sirup dengan manisnya, seperti bunga dengan harumnya, dan aku dengan perasaanku. Hingga kau akan mengenalku dengan beda. Tidak perlu mengingatnya, hanya tinggalkan saja dimana suatu saat kau bisa menemukannya kembali. Aku pun tetap akan  berada di jalananku.
            Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menyimpan seutas senyum dan sebutir perih yang pernah kuterima. Membungkusnya dalam saku hati dan tidakkan kubiarkan memudar oleh penyesalan selama jalananku masih utuh. Semuanya indah. Meski saku itu pernah basah bertahun-tahun, aku tetap berusaha mengeringkannya. Hingga sekarang, bekasnya mungkin masih ada. Masa lalu adalah bagian dariku. Seburuk apapun itu, aku tetap berharap kau tidak memicingkan matamu untuk itu ketika kau berjalan di jalananku.
            Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin tidak seperti cuaca yang selalu berubah. Jangan menatapku, aku pun tidak sempurna. Lihatlah langit saja. Terbanglah ke angkasa sempurna, menyibak awan, menyapa mentari, berkenalan dengan rembulan, bahkan memetik bintang. Lakukanlah, hingga jika kau mengingat bumi, bisakah kau menanyakan pada dirimu, apakah aku masih terlihat?
            Aku tidak bertanya. Tidak ada hitam, tidak ada putih. Belum ada yang pasti. Aku menikmati seluruh tanya dengan semangkuk kebingungan yang bercampur dengan banyak kuah yang menghangatkan. Cerita yang lezat.

            Aku tidak bertanya. Jadi apakah kau juga tidak akan bertanya?
Tag : ,

Satu untuk Kami




Setiap dari kami adalah pemeran utama untuk kisah yang berlayar di samudera kehidupan kami masing-masing. Menjadi guru, satu yang kami tuju. Salah satu cita kami diantara sekian juta impian yang kami lepaskan ke langit. Untuk dapat kami raih nantinya. Ya, hanya salah satu kawan. Tak perlu membawa khawatir yang berlebih dan kami hanya  membawa sekantung semangat yang selalu terisi penuh ketika kami tengah bergerak menyusun tangga untuk meraih cita kami. Be a great teacher.

Senyummu, di Bukit Batu



            Senyummu malam itu adalah salah satu yang indah. Satu yang kan kuingat. Pun satu yang hanya satu kali bertatap  menjumpaiku pada waktu yang sangat tepat, dalam sebuah perjalananku menjenguk semesta-Nya.

Pesan Untukku



            Selamat pagi mentari yang cerah, bagaimana kabar cahayamu? Apakah masih seterang satu hari yang lalu? Semoga kau tak bosan menyinari manusia dan makhluk bumi yang sangat membutuhkan hangatmu.
Tag : ,

Sepasang Mata



Hanya mata yang aku tahu tak pernah palsu. Seperti cermin jiwa dan hati. Tak bisa berdusta layaknya kata. Mata yang bicara, bahkan untuk setiap kata yang mengelukan lidah dan mendinginkan bibir hingga tak mampu berucap. Mata yang bicara, bahkan untuk segenap rasa yang merona  disudut-sudut hati yang tak mampu terungkap. Mata yang bicara, bahkan untuk membuahkan kenangan dalam ingatan sepanjang waktu yang tak mampu dibendung lajunya.
Tag : ,

Titik Kecil





            Gelap hadir terlalu dini bahkan ketika senja belum usai mewarnai ujung hari. Dinginnya titik-titik air jatuh segera membasahi aspal yang menguapkan panas. Dingin dan panas, bersatu menjadi sebuah hangat. Aku merasa hangat, bahkan ketika angin semilir menegakkan batang rambut lenganku. Aku merasa hangat, bahkan ketika cipratan air hujan merembes masuk lewat pori-pori epidermisku. Pada malam yang masih muda ini, aku menengok langit yang menangis deras, tak kulihat titik kecil itu. Hangat ini, ingin kukabarkan kepadamu.

Di Ujung Asa




Tak bisa bergerak, aku terpaku lama
Bukan menanti, bukan berharap
Hanya berhenti, tak ada gairah melanjutkan mimpi
Aku mencoba membangunkan jiwaku yang tidur bahkan ketika mataku terbuka
“Bangun!” Aku berteriak
belum ada jawaban,
Kuulangi sekali lagi
Tetap hanya diam
Aku diam, tanpa berpikir, tanpa bertindak
Tag : ,

Berhenti Sejenak, Sejenak Berhenti



Jika aku bisa (bukan berandai-andai), aku akan sejenak berhenti
Sejenak, kuambil dua buah jarum jam dan takkan ada yang berputar kedepan
karena kutak mau berhenti sendiri, tapi berhenti bersama waktu
Tag : ,

Wanted : New Spirit



            “Seperti sebuah saringan, yang terbaiklah yang akan lolos dalam penyaringan, yaitu mereka yang dengan tekanan yang berat tetapi masih mampu untuk hadir di sini.”kata seorang wanita berjilbab biru seusai menghitung jumlah peserta yang duduk dalam majelis ilmu. Panggilannya Mbak Ninuk.
            Satu, dua, tiga, dan empat. Hanya empat kepala yang muncul malam ini. Undangan sebenarnya sudah sampai ke rumah teman-teman kami, jarkoman sms pun sudah dikirim, tapi setengah jam ditunggu masih tak bertambah jumlah kami. Sudah beberapa tahun belakangan ini tak pernah lagi mencapai angka tiga puluh kepala seperti dulu.
Dimana mereka? Entahlah, mereka seperti menghilang dengan berbagai alasan klasik yang sudah sering dilontarkan dan menuntut kami yang di sini untuk mengerti dan selalu husnudzon. Hujan, itu salah satu alasan ketidakhadiran mereka.  Akhir bulan Januari ini memang hanya gumpalan mendung yang tampak selalu setia untuk menyelimuti langit bahkan ketika pagi baru saja  tiba. Hujan yang tumbuh dari mendung memang menciptakan suatu suasana yang pas untuk sejenak rehat dan sangat cocok dinikmati untuk bersantai dirumah.
Namun, ketika waktu yang ada adalah luang, maka sebenarnya terdapat kesempatan untuk hadir dalam memenuhi undangan. Meski hujan tengah mengguyur, bukankah sudah diciptakan payung dan jas hujan untuk melindungi tubuh dari air hujan, so tidak ada lagi alasan untuk tidak datang kecuali dengan alasan malas.
Ya, malas namanya. Ia selalu menjadi penghalang diri ini untuk memulai. Saat tidur dirasa lebih baik daripada hadir dimajelis, saat nonton tipi atau film dirasa lebih asik daripada hadir di majelis, saat internet dirasa lebih seru daripada hadir di majelis, maka malas benar-benar telah menenggelamkan diri ini.
“Kita bisa menghadapi gelombang globalisasi yang begitu cepat merubah dunia kita, yang menjadikan kita menyibukkan diri dengan kegiatan di dunia maya, yaitu dengan tetap meneguhkan hati dan melahirkan semangat baru setiap hari.”Lanjut Mbak Ninuk yang terus saja menyemangati kami untuk tidak ikut larut dari perubahan zaman yang tak terelakkan.
Semangat baru, itu kuncinya. Lalu pertanyaannya bagaimana cara mencari bahkan menumbuhkan semangat itu agar selalu segar untuk membanjiri setiap nadi setiap hari?
Jawabannya sangat tergantung cara penafsiran diri terhadap kesempatan yang hadir untuk mendatangi majelis ilmu dari setiap kondisi yang dialami saat itu. Satu cara yang mudah untuk memulai adalah dengan memandang ke arah akhir atau hasil yang akan didapat setelah langkah untuk memulai. Di akhir, tentu Allah telah sediakan pahala dan kebaikan bagi mereka yang telah meniatkan diri untuk hadir di majelis ilmu.
Barangsiapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan mudahkan ia jalan menuju jannah. Dan bahwa para malaikat mengepakkan sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan penduduk bumi hingga ikan-ikan yang ada di air. Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti perumpamaan purnama dan bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak meewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka hendaknya ia mengambil bagian yang cukuup.(HR Tirmidzi)
Bukankah sangat istemewa hal-hal yang didapatkan orang yang menimba ilmu? So, hujan badai sekalipun takkan pernah menjadi alasan jika diri ini tahu kebaikan besar yang didapatkan setelah berhasil menerjang badai itu. Malas juga harus segera disingkirkan, dibuang jauh ke laut. Oleh karena itu, dengan menilik akhir, maka sebuah awalan dapat sangat mudah dilakukan, itulah semangat baru.
Semangat baru, ialah semangat yang selalu terisi dengan niat yang penuh, semangat yang dilengkapi dengan sebungkus ikhlas yang meneguhkan hati saat memulai hingga akhir, semangat yang tak kenal padam bahkan ketika badai datang dan semangat melawan segenap kemalasan yang sering hinggap dijiwa ini.
“Jangan pernah menyerah untuk tetap mengajak teman-teman yang lain. Mungkin inovasi baru atau perubahan juga perlu dicanangkan dalam majelis ilmu ini agar teman-teman tertarik dan tidak merasa bosan jika hadir di sini.”Lanjut Mbak Ninuk sebelum mengakhiri majelis ilmu dalam malam yang belum menunjukkan tanda akan berhentinya rintikan hujan. Seperti yang dikatakan Hanum Salsabiela dalam Novelnya 99 Cahaya di Langit Eropa, bahwa manusia dan peradaban memang berubah dengan mudah. Namun, yang tidak boleh berubah adalah kewajiban kita sebagai agen muslim yang baik.
Perubahan memang membuat kehidupan menjadi semakin canggih. Kalau hape saja bisa senantiasa berubah dengan inovasi yang menarik, maka kegiatan dalam majelis ilmu juga harus senantiasa berubah dalam rangka berinovasi, baik dalam sumber daya manusia yang mencakup cara penyampaian pemateri hingga didukung acara-acara selingan lain yang cukup menarik. Namun, seperti makanan, semenarik apapun bungkus makanan dan kelezatan makanan yang ditawarkan akan tetap tidak dimakan jika calon pembeli tidak ada gairah untuk memakannya. Gairah itu adalah semangat baru, semangat yang seharusnya ada, semangat yang seharusnya tergugah. Jadi, semua kembali ke diri masing-masing untuk memilih. Semoga semangat selalu menggelorakan disetiap kesempatan yang ada untuk sebuah jalan menuntut ilmu.

Detik Ini, Memaknai “Motivasi”



            -Di Motivasi, aku mengerti bahwa lelah bukan berarti akhir. Lelah bukan berarti berhenti. Tapi lelah adalah menanti. Menanti untuk bangkit kembali. Lelah adalah langkah awal. Langkah awal untuk belajar bertahan-

Menyoal Cinta


           
             “Jika kita menghijrahkan kata cinta, dari kata benda menjadi kata kerja, maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta, dari jatuh cinta menjadi bangun cinta, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”(Salim A. Fillah)

Meraba Sejuknya Selo



            Matahari tampak seperti bulan, tak menyilaukan, bulat berwarna orange, bergerak diantara awan putih yang tebal. Pagi ini, udara Boyolali terasa sejuk sekali. Sepanjang perjalanan, sawah-sawah terbentang luas bak permadani hijau yang indah. Petani-petani sudah mulai sibuk menangani padi-padi mereka yang kian hari kian tumbuh tinggi. Masih dalam balutan embun pagi, kutemui sebuah tulisan “selamat datang di kawasan Selo” .
Tag : ,

Bata-Bata Harapan



            Di sudut lapangan yang kering, para punggawa negara, dengan dasi dan kopiah mereka, berdengung ria dihadapan sekian banyak warga. Beraksi bak pahlawan, melontarkan janji, entah asli entah palsu. Janji yang memenuhi obsesi warga tentang segala yang warga inginkan akan segera terwujud. Mereka membangun harapan atas setiap obsesi untuk menjadi orang yang memiliki kehidupan yang lebih tercukupi.
Tag : ,

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -