Total Pageviews
Entri Populer
-
Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu… Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera k...
-
Sebelas derajat Celcius. Jaket tebal. Sambutan hangat. Teriakan jargon. Tolak angin yang habis. Absedon Solo. Hujan lembut di siang ha...
-
Someone ask me, why does farewell occurs in our life? “Farewell do not need understanding, but accepting…”
Followers
My Little Story Life
Secuil cerita yang tertulis akan lebih berarti jika dibagi daripada hanya menyimpannya sendiri :)
Diberdayakan oleh Blogger.
About Me
Categories
- Biologi (6)
- Coretanku (28)
- Islamic Center (9)
- Jalan-Jalan (11)
- Special Thing (19)
- Tentang malam (10)
Pages
Archive for 2014
Bidadari
Bagaimana sosok seorang bidadari?
Tentunya kebanyakan
dari kita berpikir bidadari itu cantik lagi baik hatinya.
Pokonya yang
indah-indah melekat di sosok yang bersayap itu. Pemahaman terkait sosok
bidadari yang seperti itu memang tidak salah tapi tidak benar seratus persen
juga. Lalu, pertanyaan selanjutnya apakah bidadari itu hanya sosok fiksi semata
atau memang nyata adanya? Jawabnya tentu beragam versinya.
Tag :
Islamic Center,
Aku Merindukanmu
Oktober
yang panas. Suatu senja datang menjelang. Aku menunggu matahari melewati kaki
langit yang memerah. Hilang. Hanya tersisa gelap. Cahaya segera berganti dengan
neon-neon putih dan orange. Menggantung di atap rumah dan berjajar di tepi
jalanan. Aku masih menunggu di tempatku, menatap barat. Mencarimu yang lama tak
kujumpai. Bukan karena aku melupakanmu, hanya
waktu melarutkanku pada hari yang tak bisa menengokmu barang sekilas
pandangan pun. Kini, terlambat. Aku tak menemuimu menggantung di langit. Apakah
engkau pergi ke bagian bumi yang lain? Apakah di sana engkau menyapa dengan
indah manusia-manusia lain yang tengah tergulung duka dan menjadi pemantik
senyuman manusia-manusia lain yang tengah tenggelam dalam penat?
Tag :
Tentang malam,
Setara
Pernahkah
melihat rumput tetangga yang lebih hijau?
Seakan
puas tak pernah diraih. Seakan iri tak mau pergi dari hati. Tapi tahukah bahwa
tidak ada yang lebih menderita dan tidak ada yang lebih bahagia. Porsi setiap
manusia sama, hanya bentuk kesedihan dan kesenangannya saja yang berbeda.
Singkirkan perasaan bahwa diri kitalah yang paling susah daripada manusia lain.
Tag :
Coretanku,
Tanpa Tanya di Jalananku
-Malam
yang panjang dan berbeda. Melihat lebih jelas detik-detik yang terlewati di
jalananku. Segalanya kuceritakan dalam diam di bawah atap selambu malam yang
berkelip-kelip bintang. Udara malam yang aneh, terasa hambar masuk ke
tenggorokan. Rasa yang baru untuk kuteguk. Tanpa tanya, aku menyukai semua yang kini ada-
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin berpura-pura menutup
telinga meskipun rasa ingin tahu begitu menggebu. Begitu membuncah. Begitu
menarik bibirku untuk mengucap sesuatu. Seluruh dayaku akan kukerahkan untuk
membuatnya membisu. Terkadang lebih baik ketika aku tidak menemukan titik. Aku takut
titik itu ialah akhir sehingga tidak kutemukan kalimat selanjutnya. Jadi, aku
biarkan kata-kataku melaju di jalanan panjang. Jalanan yang kubuat untuk
menjadi cerita, adalah melelahkan tapi juga menyenangkan.
Aku tidak
bertanya. Aku hanya ingin bertahan. Bukan dengan seluruh jiwa dan raga, hanya
dengan secuil harapan dan asa. Klise memang. Tapi hanya mencoba mejadi diri
agar mengenal kata sabar. Agar menghargai setiap kata yang telah kutulis di
jalananku. Agar tidak berhenti di persimpangan yang menghadangku. Agar tidak
menangis ketika batu menyandung langkahku. Agar tidak mematikanku terlalu
cepat.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menunjukkan dengan
ekspresiku sendiri. Seperti kopi dengan pahitnya, seperti sirup dengan manisnya,
seperti bunga dengan harumnya, dan aku dengan perasaanku. Hingga kau akan
mengenalku dengan beda. Tidak perlu mengingatnya, hanya tinggalkan saja dimana
suatu saat kau bisa menemukannya kembali. Aku pun tetap akan berada di jalananku.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menyimpan seutas
senyum dan sebutir perih yang pernah kuterima. Membungkusnya dalam saku hati
dan tidakkan kubiarkan memudar oleh penyesalan selama jalananku masih utuh.
Semuanya indah. Meski saku itu pernah basah bertahun-tahun, aku tetap berusaha
mengeringkannya. Hingga sekarang, bekasnya mungkin masih ada. Masa lalu adalah
bagian dariku. Seburuk apapun itu, aku tetap berharap kau tidak memicingkan
matamu untuk itu ketika kau berjalan di jalananku.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin tidak seperti cuaca
yang selalu berubah. Jangan menatapku, aku pun tidak sempurna. Lihatlah langit
saja. Terbanglah ke angkasa sempurna, menyibak awan, menyapa mentari,
berkenalan dengan rembulan, bahkan memetik bintang. Lakukanlah, hingga jika kau
mengingat bumi, bisakah kau menanyakan pada dirimu, apakah aku masih terlihat?
Aku tidak bertanya. Tidak ada hitam, tidak ada putih.
Belum ada yang pasti. Aku menikmati seluruh tanya dengan semangkuk kebingungan
yang bercampur dengan banyak kuah yang menghangatkan. Cerita yang lezat.
Aku tidak bertanya. Jadi apakah kau juga tidak akan
bertanya?
Tag :
Coretanku,
Satu untuk Kami
Setiap dari kami adalah pemeran utama untuk kisah yang berlayar di
samudera kehidupan kami masing-masing. Menjadi guru, satu yang kami tuju. Salah
satu cita kami diantara sekian juta impian yang kami lepaskan ke langit. Untuk
dapat kami raih nantinya. Ya, hanya salah satu kawan. Tak perlu membawa
khawatir yang berlebih dan kami hanya membawa
sekantung semangat yang selalu terisi penuh ketika kami tengah bergerak menyusun
tangga untuk meraih cita kami. Be a great teacher.
Tag :
Special Thing,
Senyummu, di Bukit Batu
Senyummu malam itu adalah salah satu
yang indah. Satu yang kan kuingat. Pun satu yang hanya satu kali bertatap menjumpaiku pada waktu yang sangat tepat, dalam
sebuah perjalananku menjenguk semesta-Nya.
Tag :
Tentang malam,
Pesan Untukku
Selamat
pagi mentari yang cerah, bagaimana kabar cahayamu? Apakah masih seterang satu
hari yang lalu? Semoga kau tak bosan menyinari manusia dan makhluk bumi yang
sangat membutuhkan hangatmu.
Tag :
Jalan-Jalan,
Sepasang Mata
Hanya mata yang aku tahu tak pernah palsu. Seperti cermin jiwa dan
hati. Tak bisa berdusta layaknya kata. Mata yang bicara, bahkan untuk setiap
kata yang mengelukan lidah dan mendinginkan bibir hingga tak mampu berucap.
Mata yang bicara, bahkan untuk segenap rasa yang merona disudut-sudut hati yang tak mampu terungkap.
Mata yang bicara, bahkan untuk membuahkan kenangan dalam ingatan sepanjang
waktu yang tak mampu dibendung lajunya.
Tag :
Coretanku,
Titik Kecil
Gelap
hadir terlalu dini bahkan ketika senja belum usai mewarnai ujung hari. Dinginnya
titik-titik air jatuh segera membasahi aspal yang menguapkan panas. Dingin dan
panas, bersatu menjadi sebuah hangat. Aku merasa hangat, bahkan ketika angin
semilir menegakkan batang rambut lenganku. Aku merasa hangat, bahkan ketika
cipratan air hujan merembes masuk lewat pori-pori epidermisku. Pada malam yang
masih muda ini, aku menengok langit yang menangis deras, tak kulihat titik
kecil itu. Hangat ini, ingin kukabarkan kepadamu.
Tag :
Tentang malam,
Di Ujung Asa
Tak bisa bergerak, aku terpaku lama
Bukan menanti, bukan berharap
Hanya berhenti, tak ada gairah
melanjutkan mimpi
Aku mencoba membangunkan jiwaku yang
tidur bahkan ketika mataku terbuka
“Bangun!” Aku berteriak
belum ada jawaban,
Kuulangi sekali lagi
Tetap hanya diam
Aku diam, tanpa berpikir, tanpa
bertindak
Tag :
Coretanku,
Berhenti Sejenak, Sejenak Berhenti
Jika aku bisa (bukan berandai-andai), aku akan sejenak
berhenti
Sejenak, kuambil dua buah jarum jam dan takkan ada yang
berputar kedepan
karena kutak mau berhenti sendiri, tapi berhenti bersama
waktu
Tag :
Coretanku,
Wanted : New Spirit
“Seperti sebuah
saringan, yang terbaiklah yang akan lolos dalam penyaringan, yaitu mereka yang
dengan tekanan yang berat tetapi masih mampu untuk hadir di sini.”kata seorang
wanita berjilbab biru seusai menghitung jumlah peserta yang duduk dalam majelis
ilmu. Panggilannya Mbak Ninuk.
Satu, dua, tiga, dan empat. Hanya empat kepala yang muncul
malam ini. Undangan sebenarnya sudah sampai ke rumah teman-teman kami, jarkoman
sms pun sudah dikirim, tapi setengah jam ditunggu masih tak bertambah jumlah
kami. Sudah beberapa tahun belakangan ini tak pernah lagi mencapai angka tiga
puluh kepala seperti dulu.
Dimana mereka? Entahlah, mereka seperti menghilang dengan berbagai alasan
klasik yang sudah sering dilontarkan dan menuntut kami yang di sini untuk
mengerti dan selalu husnudzon. Hujan, itu salah satu alasan ketidakhadiran
mereka. Akhir bulan Januari ini memang hanya
gumpalan mendung yang tampak selalu setia untuk menyelimuti langit bahkan
ketika pagi baru saja tiba. Hujan yang
tumbuh dari mendung memang menciptakan suatu suasana yang pas untuk sejenak
rehat dan sangat cocok dinikmati untuk bersantai dirumah.
Namun, ketika waktu yang ada adalah luang, maka sebenarnya terdapat
kesempatan untuk hadir dalam memenuhi undangan. Meski hujan tengah mengguyur,
bukankah sudah diciptakan payung dan jas hujan untuk melindungi tubuh dari air
hujan, so tidak ada lagi alasan untuk tidak datang kecuali dengan alasan malas.
Ya, malas namanya. Ia selalu menjadi penghalang diri ini untuk
memulai. Saat tidur dirasa lebih baik daripada hadir dimajelis, saat nonton
tipi atau film dirasa lebih asik daripada hadir di majelis, saat internet
dirasa lebih seru daripada hadir di majelis, maka malas benar-benar telah
menenggelamkan diri ini.
“Kita bisa menghadapi gelombang globalisasi yang begitu cepat
merubah dunia kita, yang menjadikan kita menyibukkan diri dengan kegiatan di
dunia maya, yaitu dengan tetap meneguhkan hati dan melahirkan semangat baru
setiap hari.”Lanjut Mbak Ninuk yang terus saja menyemangati kami untuk tidak
ikut larut dari perubahan zaman yang tak terelakkan.
Semangat baru, itu kuncinya. Lalu pertanyaannya bagaimana cara
mencari bahkan menumbuhkan semangat itu agar selalu segar untuk membanjiri
setiap nadi setiap hari?
Jawabannya sangat tergantung cara penafsiran diri terhadap
kesempatan yang hadir untuk mendatangi majelis ilmu dari setiap kondisi yang dialami
saat itu. Satu cara yang mudah untuk memulai adalah dengan memandang ke arah
akhir atau hasil yang akan didapat setelah langkah untuk memulai. Di akhir,
tentu Allah telah sediakan pahala dan kebaikan bagi mereka yang telah meniatkan
diri untuk hadir di majelis ilmu.
Barangsiapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan
mudahkan ia jalan menuju jannah. Dan bahwa para malaikat mengepakkan sayapnya
karena ridha terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu itu akan
dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan penduduk bumi hingga ikan-ikan yang
ada di air. Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti
perumpamaan purnama dan bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para
Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak meewariskan dinar ataupun dirham, akan
tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka hendaknya ia
mengambil bagian yang cukuup.(HR Tirmidzi)
Bukankah sangat istemewa hal-hal yang didapatkan orang yang menimba
ilmu? So, hujan badai sekalipun takkan pernah menjadi alasan jika diri ini tahu
kebaikan besar yang didapatkan setelah berhasil menerjang badai itu. Malas juga
harus segera disingkirkan, dibuang jauh ke laut. Oleh karena itu, dengan
menilik akhir, maka sebuah awalan dapat sangat mudah dilakukan, itulah semangat
baru.
Semangat baru, ialah semangat yang selalu terisi dengan niat yang
penuh, semangat yang dilengkapi dengan sebungkus ikhlas yang meneguhkan hati
saat memulai hingga akhir, semangat yang tak kenal padam bahkan ketika badai
datang dan semangat melawan segenap kemalasan yang sering hinggap dijiwa ini.
“Jangan pernah menyerah untuk tetap mengajak teman-teman yang lain.
Mungkin inovasi baru atau perubahan juga perlu dicanangkan dalam majelis ilmu
ini agar teman-teman tertarik dan tidak merasa bosan jika hadir di sini.”Lanjut
Mbak Ninuk sebelum mengakhiri majelis ilmu dalam malam yang belum menunjukkan
tanda akan berhentinya rintikan hujan. Seperti yang dikatakan Hanum Salsabiela
dalam Novelnya 99 Cahaya di Langit Eropa, bahwa manusia dan peradaban memang berubah
dengan mudah. Namun, yang tidak boleh berubah adalah kewajiban kita sebagai
agen muslim yang baik.
Perubahan memang membuat kehidupan menjadi semakin canggih. Kalau
hape saja bisa senantiasa berubah dengan inovasi yang menarik, maka kegiatan
dalam majelis ilmu juga harus senantiasa berubah dalam rangka berinovasi, baik
dalam sumber daya manusia yang mencakup cara penyampaian pemateri hingga
didukung acara-acara selingan lain yang cukup menarik. Namun, seperti makanan, semenarik
apapun bungkus makanan dan kelezatan makanan yang ditawarkan akan tetap tidak
dimakan jika calon pembeli tidak ada gairah untuk memakannya. Gairah itu adalah
semangat baru, semangat yang seharusnya ada, semangat yang seharusnya tergugah.
Jadi, semua kembali ke diri masing-masing untuk memilih. Semoga semangat selalu
menggelorakan disetiap kesempatan yang ada untuk sebuah jalan menuntut ilmu.
Tag :
Islamic Center,
Detik Ini, Memaknai “Motivasi”
-Di Motivasi, aku
mengerti bahwa lelah bukan berarti akhir. Lelah bukan berarti berhenti. Tapi lelah
adalah menanti. Menanti untuk bangkit kembali. Lelah adalah langkah awal.
Langkah awal untuk belajar bertahan-
Tag :
Special Thing,
Menyoal Cinta
“Jika kita menghijrahkan kata cinta, dari kata
benda menjadi kata kerja, maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam
paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta, dari jatuh cinta menjadi
bangun cinta, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”(Salim
A. Fillah)
Tag :
Islamic Center,
Meraba Sejuknya Selo
Matahari tampak seperti bulan, tak
menyilaukan, bulat berwarna orange, bergerak diantara awan putih yang tebal. Pagi
ini, udara Boyolali terasa sejuk sekali. Sepanjang perjalanan, sawah-sawah
terbentang luas bak permadani hijau yang indah. Petani-petani sudah mulai sibuk
menangani padi-padi mereka yang kian hari kian tumbuh tinggi. Masih dalam
balutan embun pagi, kutemui sebuah tulisan “selamat datang di kawasan Selo” .
Tag :
Jalan-Jalan,
Bata-Bata Harapan
Di sudut lapangan yang kering, para
punggawa negara, dengan dasi dan kopiah mereka, berdengung ria dihadapan sekian
banyak warga. Beraksi bak pahlawan, melontarkan janji, entah asli entah palsu.
Janji yang memenuhi obsesi warga tentang segala yang warga inginkan akan segera
terwujud. Mereka membangun harapan atas setiap obsesi untuk menjadi orang yang
memiliki kehidupan yang lebih tercukupi.
Tag :
Coretanku,















