Total Pageviews
Entri Populer
-
Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu… Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera k...
-
Sebelas derajat Celcius. Jaket tebal. Sambutan hangat. Teriakan jargon. Tolak angin yang habis. Absedon Solo. Hujan lembut di siang ha...
-
Someone ask me, why does farewell occurs in our life? “Farewell do not need understanding, but accepting…”
Followers
My Little Story Life
Secuil cerita yang tertulis akan lebih berarti jika dibagi daripada hanya menyimpannya sendiri :)
Diberdayakan oleh Blogger.
About Me
Categories
- Biologi (6)
- Coretanku (28)
- Islamic Center (9)
- Jalan-Jalan (11)
- Special Thing (19)
- Tentang malam (10)
Pages
Archive for Agustus 2014
Tanpa Tanya di Jalananku
-Malam
yang panjang dan berbeda. Melihat lebih jelas detik-detik yang terlewati di
jalananku. Segalanya kuceritakan dalam diam di bawah atap selambu malam yang
berkelip-kelip bintang. Udara malam yang aneh, terasa hambar masuk ke
tenggorokan. Rasa yang baru untuk kuteguk. Tanpa tanya, aku menyukai semua yang kini ada-
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin berpura-pura menutup
telinga meskipun rasa ingin tahu begitu menggebu. Begitu membuncah. Begitu
menarik bibirku untuk mengucap sesuatu. Seluruh dayaku akan kukerahkan untuk
membuatnya membisu. Terkadang lebih baik ketika aku tidak menemukan titik. Aku takut
titik itu ialah akhir sehingga tidak kutemukan kalimat selanjutnya. Jadi, aku
biarkan kata-kataku melaju di jalanan panjang. Jalanan yang kubuat untuk
menjadi cerita, adalah melelahkan tapi juga menyenangkan.
Aku tidak
bertanya. Aku hanya ingin bertahan. Bukan dengan seluruh jiwa dan raga, hanya
dengan secuil harapan dan asa. Klise memang. Tapi hanya mencoba mejadi diri
agar mengenal kata sabar. Agar menghargai setiap kata yang telah kutulis di
jalananku. Agar tidak berhenti di persimpangan yang menghadangku. Agar tidak
menangis ketika batu menyandung langkahku. Agar tidak mematikanku terlalu
cepat.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menunjukkan dengan
ekspresiku sendiri. Seperti kopi dengan pahitnya, seperti sirup dengan manisnya,
seperti bunga dengan harumnya, dan aku dengan perasaanku. Hingga kau akan
mengenalku dengan beda. Tidak perlu mengingatnya, hanya tinggalkan saja dimana
suatu saat kau bisa menemukannya kembali. Aku pun tetap akan berada di jalananku.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin menyimpan seutas
senyum dan sebutir perih yang pernah kuterima. Membungkusnya dalam saku hati
dan tidakkan kubiarkan memudar oleh penyesalan selama jalananku masih utuh.
Semuanya indah. Meski saku itu pernah basah bertahun-tahun, aku tetap berusaha
mengeringkannya. Hingga sekarang, bekasnya mungkin masih ada. Masa lalu adalah
bagian dariku. Seburuk apapun itu, aku tetap berharap kau tidak memicingkan
matamu untuk itu ketika kau berjalan di jalananku.
Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin tidak seperti cuaca
yang selalu berubah. Jangan menatapku, aku pun tidak sempurna. Lihatlah langit
saja. Terbanglah ke angkasa sempurna, menyibak awan, menyapa mentari,
berkenalan dengan rembulan, bahkan memetik bintang. Lakukanlah, hingga jika kau
mengingat bumi, bisakah kau menanyakan pada dirimu, apakah aku masih terlihat?
Aku tidak bertanya. Tidak ada hitam, tidak ada putih.
Belum ada yang pasti. Aku menikmati seluruh tanya dengan semangkuk kebingungan
yang bercampur dengan banyak kuah yang menghangatkan. Cerita yang lezat.
Aku tidak bertanya. Jadi apakah kau juga tidak akan
bertanya?
Tag :
Coretanku,

