Total Pageviews
Entri Populer
-
Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu… Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera k...
-
Sebelas derajat Celcius. Jaket tebal. Sambutan hangat. Teriakan jargon. Tolak angin yang habis. Absedon Solo. Hujan lembut di siang ha...
-
Someone ask me, why does farewell occurs in our life? “Farewell do not need understanding, but accepting…”
Followers
My Little Story Life
About Me
Categories
- Biologi (6)
- Coretanku (28)
- Islamic Center (9)
- Jalan-Jalan (11)
- Special Thing (19)
- Tentang malam (10)
Pages
Archive for Juni 2026
Arafahku, Ismailku, dan Sabitku
--
Hari Arafah, Allah turun
langsung, menyapa hamba-Nya yang tengah melangitkan doa…
Pantas saja, agar kehadiran Allah
terasa sempurna, semua sandaran dunia fana ini ajaibnya dihilangkan. Hingga aku
menatap langit dengan kekosongan dan kehilangan. Katanya, kekosongan dan
kehilangan itu Allah akan gantikan dengan penuh lagi, penuh kedamaian yang
hanya bersumber dari kesempurnaan-Nya. Sudah lama sekali rasanya, merasakan jatuh
yang seperti ini, membuatku memang hanya merasa, tiada yang akan bertahan pada
akhirnya karena perjalanan hidup ini hanya tentang cerita diantara aku dan
Tuhanku, Allah.
Aku kehilangan sandaranku, aku
menyebut sandaran itu sebagai safe place, manusia-manusia ternyaman yang
biasa aku temui setiap harinya. Begitu menyenangkan hingga aku menghargai
waktuku bersama mereka. Lalu pada suatu badai, perlahan terpaksa melepaskan
tanganku dari genggaman mereka. Terasa
seperti musim dingin. Tidak ada matahari yang terlihat, meski tau ia masih ada
dibalik lapisan atmosfer itu, hanya tidak bisa kutemui lagi di antara kepingan stellar
dendrites, plates, dan needles yang jatuh membasah di lengan bajuku.
Arafahku, musim dinginku, disinilah
aku akan belajar satu kali lagi, tentang melepaskan, bukankah melepaskan juga
menjadi satu dari banyak cara-cara mencintai? Aku terdiam diakhir tanda tanya
itu.
--
Satu hari setelah Arafah, Ismail
pernah akan dikorbankan, kini semua tentang keikhlasan itu menjadi ujian
pengorbanan setiap manusia dalam menjalani kehidupan
Pantas saja, bagiku -kenyamanan,
jauh dari konflik, dan hanya ingin melewati hari-hari dengan versiku sendiri,-
ternyata adalah ismailku, yang menjadi ujianku. Aku melangkahkan kakiku di atas
salju yang menumpuk, aku tidak lupa bahwa aku sedang di musim dinginku. Aku
masih berjalan, berproses, dan merasakan semuanya dalam satu waktu, satu helaan
napas panjang, dan satu senyum dibalik hati yang mulai sedingin salju. Aku
tidak melangitkan doa meminta sesuatu yang akan aku sesali jika dikabulkan.
Maka, ijinkan aku hanya menunggu-Mu, Allah-ku, memberiku petunjuk.
Farighan, kosong, hampa,
tidak ada yang tersisa, dan Al-Quran tidak menyebutnya kurang Ikhlas.
Kekosongan bukan berarti berhenti merasa. Kehilangan bukan berarti tak ada rasa
yang tersisa. Katanya, Allah tidak menyuruh manusia yang bersedih hatinya untuk
segera baik-baik saja. Tidak perlu buru-buru untuk pulih, karena hati punya
banyak lapis-lapisnya. Allah tau semua cinta berasal dari-Nya, dan kehilangan
sesuatu, seseorang, atau apapun yang kita cintai, juga Allah akan tau betapa
beratnya. Allah berkata “Kembalilah kepada-Ku, ditengah dukamu, dengan versimu
apa adanya.”
Ismailku, semua bentuk
kenyamanan, membuatku tersadar, semua itu bukan sesuatu yang menetap lama,
manusia-manusia itu hanya teduh di kala hujan yang datang tiba-tiba saat terik.
--
Hari-hari berikutnya, aku
melanjutkan malam dengan menatap bulan di langit, sabit tetap menjadi aku,
apapun musimnya.
Aku tersenyum seperti sabit,
meskipun langit siang menyembunyikan matahari, tapi langit malam tetap
menampakkan bulannya di musim dingin yang terlalui. Tidak ada lagi pertanyaan,
aku tidak akan bertanya kenapa semua ini harus terjadi. Aku hanya akan menjadi
diriku, dengan segalaku, di sini, di malam di musim dingin. Sendiri, tanpa
merasa kesepian. Tidak perlu memenangkan apapun, bertahan satu hari aja sudah
luar biasa cukup untukku.
Aku tersenyum seperti sabit,
meskipun hanya kecil melengkung dan sedikit cahayanya, tak sesempurna purnama,
tapi ia tetap menakjubkan dengan versinya. Menjadi berbeda memang kadang
dianggap tak sempurna, tapi bagiku itu tidak apa-apa. Menjadi berbeda memang
tidak mudah, tapi bukan berarti menjadi seperti manusia lain adalah jawabannya.
Aku akan menikmati rasa menjadi berbeda ini, di badai apapun yang terjadi.
Sabitku, semua bentuk
ke-aku-anku, menjadi yang berbeda dan tidak sempurna, ia tetap kuanggap menakjubkan
di malam musim dingin yang panjang yang tak berkesudahan.
--
